Paket Wisata ke Pulau Bawean, Paiwisata Bawean, Backpacker Pulau Bawean, Bawean Pulau Wisata, Paket Tour ke Pulau Bawean, Tour Agency Bawean island, jalan-jalan ke bawean, adventure bawean
BAWEAN TOURISM-Tourism Information & Tour Package To The Island Of Bawean

#7 of 14 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow PAKET WISATA RELIGI

DURASI: 3H2M

HARI I : GRESIK – BAWEAN - MAULANA UMAR MAS'UD - PURBONEGORO - COKROKUSUMO (L, D)

Jam 8 pagi meeting point di Pelabuhan Gresik. Jam 09.00 berangkat ke Bawean via kapal cepat. Jam 12.30 tiba di Bawean, check in hotel dan makan siang. Jam 11.30 ziarah ke Makam Syech Maulana Umar Mas’ud yang berada di kompek masjid jamik Sangkapura, Desa Kotakusuma, Kecamatan Sangkapura. Dalam sejarah perkambangan Islan di Bawean, Maulana Umar Mas’ud dikenal sebagai menyiar agama Islam di pulau ini. Berdasarkan tulisan K.H.R Abdrahman Badruddin dan cerita yang tersebar di masyarakat, mubaligh yang mempunyai nama asli Pangeran Perigi ini mengambil alih kekuasaan dari Raja Babi. Selain menyiarkan agama Islam, Maulana Umar Mas’ud menjadi penguasa di Pulau Bawean. Peninggalannya yang masih dipertahankan adalah tata kota yang bercirikan Islam Jawa, yaitu letak alun-alun dan masjid jamik. Lanjut ziarah ke Makam R.P. Purbonegoro ini terletak di desa Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura. Tepatnya di kaki bukit Malokok. Berjarak kurang lebih 2,5 KM dari pelabuhan Sangkapura, makam Raden Pangeran Purbonegoro berada tidak jauh dari makam Syech Maulana Umar Mas’ud. Dalam bangunan yang berdiri kokoh di komplek pemakaman umum Comkop ini, terdapat dua makam utama. Selain makam Purbonegoro, terdapat tujuh makam lainnya yang seluruh nisannya terbuat dari kayu jati. Ukiran tersebut menjadi ciri khas sendiri dari makam Purbonegoro. Keaslian motif dan warna ukiran nisan dan kijing tersebut tetap dipertahankan. Semasa hidupnya, Purbonegoro pernah menjabat sebagai penguasa Pulau Bawean dibawah kekuasaan kerajaan Mataram Islam. Beliau merupakan keturunan dari Syech Maulana Umar Mas’ud. Beberapa cerita rakyat mendeskripsikan kehebatan Purbonegoro. Selanjutnya ziarah ke makam R.T. Cokrokusumo yang berjarak kurang lebih 1,5 KM dari pelabuhan Sangkapura, makam Kanjeng Rahadian Tumenggung Panji Cokrokusumo, berada di desa Sungai Teluk Kecamatan Sangkapura, tepatnya di area pemakaman umum Nagasare. Makam Cokrokusumo berada dalam bangunan berarsitektur Jawa (joglo). Di dalam bangunan tersebut terdapat tiga cungkup utama. Makam Cokrokusumo berada di tengah, diapit dua cungkup lainnya. Selain itu, makam Cokrokusumo juga diberi cungkup dan kelambu berwarna merah muda. Dua sisi nisan bertuliskan aksara arab (kaligrafi) dengan isi yang berbeda. Cokrokusumo merupakan keturunan dari Syech Maulana Umar Mas’ud . beliau juga pernah menjabat sebagai penguasa di Pulau Bawean dibawa kekuasaan Cakraningrat Madura. Jam 17.00 kembali ke hotel, makan malam dan acara bebas.

HARI 2 :  JHERAT LANJENG - JUJUK TAMPO - JUJUK CAMPA - WALIYAH ZAINAB  (B, L, D)

Jam 8 pagi ziarah ke Jherat Lanjheng. Obyek wisata religi ini berjarak 4 KM dari pelabuhan Sangkapura. Terletak di dusun Tanjung Anyar, Desa Lebak, makam ini tergolong tidak bisa. Keunikannya terletak dari panjangnya. Jherat Lanjheng merupakan kuburan tua yang mempunyai panjang 11,5 meter. Selain menawarkan wisata religi, di lokasi ini juga merupakan spot sunset yang bagus. Bentuk pantai yang menyerupai teluk menjadi daya tarik bagi wisatawan. Cerita tentang Kuburan Panjang, yaitu cerita tentang Aji Saka. Konon makam dengan panjang 11-12 meter itu adalah tempat pusaka Aji Saka yang dikubur bersama darah Doro. Aji Saka adalah seorang Penyebar agama Hindu di Pulau Jawa (Javadwipa) yang berasal dari Kerajaan Asoka di India. Dia adalah salah satu pangeran dari kerajaan Asoka yang merantau ke Jawadwipa bersama dua orang pembatunya yang bernama Doro dan Sembodo. Sebelum masuk ke pulau Jawa, Pangeran Aji Saka bersama kedua pembatunya singgah di pulau Bawean. Salah satu pembantunya yang bernama Doro di tinggal di Bawean bersama salah satu pusaka (pedang ) Aji Saka. Kemudian Aji Saka bersama Sembodo berangkat ke JawaDwipa. Aji Saka berpesan kepada Doro bahwa Pusaka itu tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali di ambil sendiri oleh Aji Saka. Singkat cerita, setelah Pulau Jawa menjadi Hindu. Aji Saka teringat pada pembatunya di Bawean, Dan dia mengutus Sembodo untuk menjemput Doro dan mengambil Pusaka Aji Saka. Dan Aji Saka lupa bahwa dia pernah berpesan kepada Doro bahwa pusakanya tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali diambil sendiri oleh Aji Saka. Setelah Sembodo sampai di Pulau Bawean, timbul salah paham antara Sembodo dan Doro. Doro memegang janjinya kepada Aji Saka bahwa pusakanya tidak akan diberikan kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka, sedangkan Sembodo tidak mau kembali ke Pulau Jawa dengan tangan hampa karena tidak bisa membawa Pusaka seperti yang di amanatkan oleh Aji Saka. Karena masing-masing bersikeras dengan pendapatnya sendiri sehingga terjadilah perkelahian yang mengakibatkan keduanya meninggal. Makam Doro Ada di di Tinggen yang dikenal dengan makam panjang doro, sedangkan makam Sembodo ada di tempat Pemakaman Umum di desa Tinggen.

Jujuk Tampo

Makam Jujuk Tampo terletak di Dusun Tampo Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura. Sekitar 4 KM dari pelabuhan Sangkapura dan 1 KM dari jalan lingkar Bawean. Letaknya yang berada di area persawahan dan jauh dari pemukiman penduduk, pemakaman ini termasuk berdiri sendiri. Artinya tidak berada di komplek pemakaman umum. Area Jujuk Tampo terdiri dari dua bangunan utama. Bangunan Utama berupa makam Jujuk Tampo dan istrinya. Berjarak 10 meter dari bangunan utama, terdapat bangunan beristirahatan yang memiliki fasilitas kamar mandi , tempat wudhu dan aula peristirahatan bagi peziarah. Meski bangunan makam sudah modern, namun area ini tetap mempertahankan keaslian lingkungan alamnya. Di sudut pemakaman terdapat pohon berusia ratusan tahun dengan akar yang bergantungan. Tatanan pemakaman seperti ini jarang ditemui di destinasi wisata religi lainnya di Pulau Bawean.

Tidak hanya menawarkan wisata religi, makam Jujuk Tampo juga menyajikan pemandangan yang menyegarkan mata. Sebelum mencapai area pemakaman, peziarah akan disambut oleh sawah yang berundak-undak dan luas. Disisi lain, sosok jasad dalam makam Jujuk Tampo sendiri diyakini dalam banyak versi. Menurut para ahli tarikat, dimakam ini bersemanyam jasad Sunan Bonang yang tidak berhasil dipindahkan ke Tuban oleh santri-santrinya. Namun berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Jujuk Tampo adalah seorang mubaligh musyafir yang dibunuh orang yang berasal dari Desa Patarsekamat, Sangkapura.

Jujuk Campa

Makam Jujuk Campa terletak di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura. Sekitar 4 KM dari pelabuhan Sangkapura dan 1,5 KM dari jalan lingkar Bawean. Makam Jujuk Campa merupakan makam tunggal dengan bangunan yang sudah direnovasi. Berada di area perkampungan penduduk, membuat makam Jujuk Campa sangat gampang dijangkau.

Meneurut cerita yang berkembang, Jujuk Campa adalah seorang kepala rombongan dari negeri Campa (Kamboja) yang melakukan perjalanan ke Jawa. Ditengah perjalanan, puteri Campa yang turut serta dalam rombongan sakit dan meninggal di Pulau Bawean, tepatnya di desa Kumalasa. Penduduk setempat menyebutnya dengan kuburan “Mbah Putri”. Sementara pimpinan rombongan tidak meneruskan perjalanan dan memilih menghabiskan usianya di Pulau Bawean. Penduduk setempat sering menyebutnya dengan kuburan “Jujuk Campa”. Barang-barang peninggalan Jujuk Campa sampai saat ini masih ada dan disimpan dirumah salah satu warga desa Kumalasa.

Waliyah Zainab

Berjarak kurang lebih 18 KM dari pelabuhan Sangkapura dan 3 KM dari Bandara Harun Tahir, Kecamatan Tambak, Makam Waliyah Zainab berada di desa Diponggo, Kecamatan Tambak. Makam Waliyah Zainab berada di komplek masjid yang megah dan bersebelahan dengan pemakaman umum. Di area ini juga terdapat gazebo sebagai tempat beristirahat bagi peziarah dan museum yang berisi barang-barang peninggalam Waliyah Zainab semasa hidupnya. Makam ini merupakan destinasi utama bagi peziarah dan turis yang suka wisata religi. 

Munurut masyarakat sekitar, Waliyah Zainab dipercaya sebagai Dewi Wardah yang merupakan salah satu istri dari Sunan Giri. Semasa hidupnya, Waliyah Zainab dikenal sebagai penyiar agama Islam di Desa Diponggo. Tidak hanya mempengaruhi agama dan kepercayaan penduduk sekitar, keberadaan Waliyah Zainab juga mempengaruhi bahasa sehari-hari masyarakat Diponggo. Berbeda dengan bahasa Bawean pada umumnya, bahasa masyarakat Diponggo kental dengan aksen Bahasa Jawa.

Jam 17.00 kembali ke hotel, makan malam dan acara bebas

HARI 3: ANYAMAN PANDAN BAWEAN - PEMANDIAN SUMBER AIR PANAS - GRESIK (B)

Jam 6 pagi melihat proses pembuatan kerajinan anyaman pandan khas Bawean dan mengunjungi pemandian sumber air panas. Jam 8.30 diantar ke Pelabuhan Sangkapura untuk kembali ke Gresik. 

HARGA PAKET:

KUOTA

HARGA

2 PAX

Rp. 2.500.000 / Orang

3 PAX

Rp. 2.200.000 / Orang

4 PAX

Rp. 2.100.000 / Orang

5 PAX

Rp. 2.000.000 / Orang

6 PAX

Rp. 1.900.000 / Orang

7 PAX

Rp. 1.800.000 / Orang

8 PAX

Rp. 1.700.000 / Orang

9 PAX

Rp. 1.600.000 / Orang

10 PAX

Rp. 1.500.000 / Orang

*Harga paket adalah harga per orang untuk private tour

Harga Paket Sudah Termasuk:

  • Tiket Kapal Cepat Kelas VIP (PP)
  • Hotel 2 malam (1 kamar untuk 2 orang, AC, Kamar Mandi Dalam, Free Wifi)
  • Transportasi darat selama tour (Mobil Avanza/Xenia+Driver+BBM)
  • Life Jacket
  • Makan 6x (Sarapan 2x, makan siang 2x, makan malam 2x)
  • Dokumentasi
  • Air mineral 600 ml / hari
  • Merchandise Bawean Tourism
  • Guide Lokal
  • Donasi untuk masjid di Bawean

TERM & CONDITION

  • Pendaftaran peserta paling lambat 3 hari sebelum waktu keberangkatan
  • Down payment 50% dibayar pada saat pendaftaran
  • Pendafataran dan konfirmasi pembayaran tour ke baweantourism@gmail.com, telp: +62811883367
  • Sisa pembayaran tour dibayar paling lambat pada hari dan tanggal tour dimulai
  • Apabila terjadi pembatalan dari pihak peserta, maka down payment dinyatakan hangus.
  • Apabila terjadi pembatalan dari pihak kami, maka down payment akan dikembalikan 100%